Berita


Tangis Sang Planet Biru

“Selamat pagi”

Perkenalkan, aku Bumi, planet biru yang menjadi bagian dari tata surya. Umurku sudah miliaran tahun. Aku memang sudah sangat tua, tetapi hingga kini aku masih menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi semua makhluk hidup. Dalam dekapanku, mereka dapat merasa aman, tenang, dan bahagia.

Tubuhku terdiri atas berbagai materi dengan fungsi yang beragam. Itulah yang membuatku menjadi planet yang istimewa. Tubuhku terbagi menjadi daratan dan perairan. Daratan dipenuhi tanah, pasir, bebatuan, besi, tembaga, serta berbagai sumber daya alam lain yang bermanfaat. Sementara itu, perairanku menjadi habitat bagi ikan, alga, tumbuhan air, dan hewan laut.

Meskipun aku memiliki jutaan teman makhluk hidup, hanya ada tiga sahabat yang paling dekat denganku. Sahabat pertamaku adalah Tomi, pohon besar yang hidup di hutan rimba. Sahabat keduaku Emon, seekor kera lincah yang gemar melompat dan bergelantungan dari dahan ke dahan. Sahabat terakhirku adalah Donal, seorang manusia yang sering bertindak ceroboh.

***

Pada suatu siang yang cerah, aku mendengar senandung bahagia dari arah hutan tempat Tomi tinggal. Rupanya, ia sedang menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang membuat daun dan rantingnya bergoyang lembut. Bak seorang penari, Tomi meliuk mengikuti irama angin. Gesekan dedaunan dan ranting-ranting pohon di sekitarnya menciptakan musik alam yang terdengar begitu syahdu.

Tak hanya itu, aroma harum juga tercium dari tubuh Tomi. Di pucuk-pucuk rantingnya tumbuh bunga-bunga berwarna oranye. Sebagian masih berupa kuncup, sementara yang lain telah mekar dengan indah.

“hari ini kamu terlihat gembira sekali, Tom.” sapaku pada Tomi.

“Benar, kawan,” jawab Tomi riang. “Aku sangat bahagia. Lihatlah bunga-bunga itu bermekaran karena perasaanku sedang senang.”

Aku tersenyum mendengarnya. Memang begitulah Tomi dan pohon-pohon lain di hutan. Ketika mereka bahagia dan sehat, bunga-bunga akan bermunculan menghiasi ranting-ranting mereka. Biasanya hal itu terjadi setelah musim berganti dan daun-daun baru mulai tumbuh. Melihat Tomi dan kawan-kawannya tumbuh rindang membuatku ikut bahagia. Mereka menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup yang tinggal dalam dekapanku.

Namun, kebahagiaan siang itu ternyata tidak berlangsung lama.

Di belahan hutan lain dimana temanku Emon, si kera lincah, tinggal justru terjadi kebakaran hebat. Api dengan cepat melahap dedaunan serta semak-semak yang sudah mengering. Dahan-dahan pohon terjatuh satu per satu karena batangnya terbakar. Asap hitam membumbung tinggi ke udara. Aku pun mendengar teriakan Emon.

Saat itu Emon tengah mencari tempat baru yang menyediakan banyak makanan untuk dirinya dan keluarganya. Namun ditengah pencariannya itu ia melihat kepulan asap dari arah tempat tinggalnya. Tanpa berpikir panjang Emon pun segera bergegas pulang untuk memastikan keselamatan keluarganya di rumah.

Sepanjang perjalanan, Emon terus berdoa agar istri dan kedua anaknya selamat. Dengan lincah ia melompat dari satu dahan ke dahan lainnya. Beberapa kali ia terjatuh karena ranting-ranting pohon telah mengering dan rapuh akibat musim kemarau. Meski begitu, Emon tidak memedulikan rasa sakitnya. Ia hanya ingin segera sampai di rumah.

Sesampainya di sana, langkah Emon terhenti. Hutan yang selama ini menjadi tempat tinggalnya telah berubah menjadi lautan abu. Pohon-pohon hangus berdiri seperti bayangan hitam yang menyedihkan. Tidak ada lagi suara burung ataupun desir daun yang biasanya menenangkan.

“Temanku, jangan bersedih. Aku masih menyediakan tempat berlindung untuk keluargamu,” kataku mencoba menenangkan Emon.

“Di mana tempat itu, Bumi?” tanya Emon penuh harap.

“Di kubangan air di seberang hutan. Aku melihat beberapa kera berlari ke sana saat kebakaran terjadi. Mungkin keluargamu juga berada di sana.”

“Terima kasih, Bumi!” seru Emon sebelum kembali melompat menuju tempat yang kutunjukkan.

Tak lama kemudian, Emon tiba di kubangan air itu. Dua anaknya langsung berlari memeluknya sambil menangis ketakutan. Jantung Emon berdegup kencang. Rasa lega, sedih, dan cemas bercampur menjadi satu.

“Kalian baik-baik saja, Nak?” tanyanya lirih.

“Kami takut, Pak,” jawab salah satu anaknya sambil terisak.

“Tenanglah. Bapak sudah di sini. Kalian aman sekarang,” ucap Emon sambil memeluk mereka erat. Setelah beberapa saat, ia kembali bertanya, “Di mana ibu kalian?”

Kedua anak itu saling berpandangan sebelum akhirnya menjawab dengan suara gemetar.

“Tadi ibu melihat seorang manusia yang celananya terbakar. Ibu mencoba menolongnya dengan memukul-mukul api di tubuh manusia itu,” kata anak pertama.

“Namun manusia itu malah menendang ibu hingga terjatuh ke dalam api,” lanjut anak kedua. “Setelah itu kami tidak melihat ibu lagi.”

Pelukan Emon semakin erat. Ia menahan kesedihan yang begitu besar. Kini ia sadar bahwa istrinya telah menjadi korban kebakaran hutan itu.

Belum hilang kesedihanku melihat penderitaan Emon, aku kembali menyaksikan sahabatku yang lain berada dalam keadaan menyedihkan.

Donal terbaring lemah di sebuah klinik kecil yang tidak jauh dari hutan terbakar. Kakinya melepuh dan kulitnya mengelupas akibat terkena api.

“Donal, apa yang terjadi padamu?” tanyaku.

“Kakiku terbakar,” jawabnya sambil meringis kesakitan.

“Mengapa bisa begitu? Apakah kamu berada di hutan saat kebakaran terjadi?”

Donal menundukkan kepala. “Iya, Bumi. Sebenarnya… akulah yang menyebabkan kebakaran itu.”

Aku terkejut mendengar pengakuannya. “Kamu? Mengapa kamu melakukan hal itu? Tidakkah kamu tahu bahwa banyak makhluk hidup tinggal di sana?”

“Aku tidak sengaja,” jawab Donal pelan. “Awalnya aku hanya bermain petasan bersama teman-temanku. Setelah petasan habis, kami mengumpulkan daun-daun kering lalu membakarnya. Aku tidak menyangka api itu akan membesar dan membakar seluruh hutan.”

Aku merasa sangat marah mendengarnya. “Donal, tidakkah kamu sadar sekarang sedang musim kemarau? Daun dan ranting kering sangat mudah terbakar. Sedikit percikan api saja bisa menjadi bencana besar!”

Donal menatapku penuh penyesalan. “Maafkan aku, Bumi. Aku berjanji tidak akan ceroboh lagi.”

“Jangan hanya meminta maaf!” kataku tegas. “Jika lukamu sudah sembuh, tanamlah kembali pohon-pohon di hutan itu. Hutan harus kembali hijau agar dapat dihuni makhluk hidup lagi. Karena kecerobohanmu, Emon kehilangan rumah dan istrinya.”

Donal terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

“Aku akan melakukannya. Aku juga akan mengajak teman-temanku membantu menanam kembali hutan itu.”

Mendengar janji itu, aku berharap suatu hari nanti hutan yang telah menjadi abu itu dapat kembali hijau dan penuh kehidupan.

Pencarian

Kontak

Alamat :

Jalan Sidoharjo-Girimarto KM. 1

Telepon :

02735316206 - 081225837077

Email :

smpn1ndarjo@gmail.com

Media Sosial :

Kalender

Mei 2026

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31

Info Wonogiri

Statistik

Apa opinimu

Bagaimana pendapatmu, ketika SMP N 1 Sidoharjo meluncurkan Web?

  Senang
  Biasa saja

  Hasil Polling